Bayi Mirip Ayah Cenderung Lebih Sehat dalam Keluarga Kurang Harmonis

Bayi Mirip Ayah Cenderung Lebih Sehat dalam Keluarga Kurang Harmonis

Memiliki bayi adalah anugerah luar biasa untuk pasangan suami istri. Baik ayah maupun ibu sama-sama ingin mengasuh dan megamati tumbuh kembang sang buah hati. Pola asuh orangtua memiliki dampak besar untuk si kecil.

Tak menutup mata, banyak pula pasangan yang sudah tak harmonis meski mereka memiliki bayi. Banyak pasangan yang sudah tidak tinggal bersama.

Terkait hal ini, para peneliti asal Binghamton University, New York, ingin mengamati pola asuh ayah dan efeknya terhadap kesehatan bayi, terutama dalam keluarga yang tak harmonis.

Mereka menemukan saat ayah merasa punya kemiripan dengan bayi mereka, ayah akan terdorong untuk pulang dan ikut mengasuh bayinya. Inilah yang membuat bayi dalam keluarga kurang harmonis dapat tumbuh lebih sehat dibanding bayi yang tak merasakan pola asuh ayah.

"Peran ayah sangat penting dalam membesarkan anak dan akan berdampak pada kesehatan si kecil," kata Profesor Ekonomi ternama di Binghamton University, Salomon Polachek, dilansir Science Daily (5/3/2018).

Polachek bersama rekan mereka melakukan analisis terhadap data penelitian Fragile Families and Child Wellbeing (FFCW) yang berfokus pada 715 keluarga di mana bayi hanya tinggal dengan ibu saja.

Dari data yang dianalisis, peneliti menemukan bahwa ayah yang merasa mirip dengan anaknya akan sering pulang hanya untuk mengasuh anaknya.

Setidaknya mereka akan menghabiskan 2,5 hari lebih banyak dalam satu bulan untuk bersama dengan bayinya.

Perilaku ini berbeda dengan ayah yang merasa tidak memiliki kemiripan dengan keturunannya.

" Ayah yang menganggap mirip dengan bayi mereka merasa lebih yakin bahwa bayi itu memang keturunannya, maka dari itu mereka mau menghabiskan lebih banyak waktu dengan bayi," ujar Polachek.

Perilaku dan peran ayah menurut peneliti berimplikasi dalam meningkatkan kesehatan anak, terutama bagi keluarga yang kurang harmonis.

"Kami menemukan indikator kesehatan anak akan membaik saat anak punya kemiripan dengan ayahnya. Penjelasan utamanya adalah kunjungan ayah yang lebih sering untuk merawat dan mengawasi bayinya berdampak pada kebutuhan kesehatan dan ekonomi anak-anak. Ayah memiliki peran besar," imbuh Polacheck.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Health Economics disebut mampu mendukung kebijakan agar orangtua terlibat langsung dalam pola asuh yang positif untuk memperbaiki kesehatan anak di usia dini.

Sudah Cukup Tidur Tapi Tetap Merasa Lelah

Sudah Cukup Tidur Tapi Tetap Merasa Lelah

Pernahkah Anda merasa letih sepanjang hari padahal sudah tidur cukup? Jika ya, Anda tidak sendiri.

Pada 2013 lalu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerbitkan hasil survei yang menyebut bahwa hampir 16 persen wanita dan 9 persen pria Amerika Serikat merasa kelelahan sepanjang waktu.

Biasanya, alasan kelelahan yang kita alami sepajang hari adalah kurang tidur. Tapi ternyata kurang tidur bukanlah satu-satunya alasan mengapa kita merasa letih seharian.

Bahkan mungkin, Anda yang cukup tidur pun mengalami rasa letih yang membuat malas melakukan aktivitas harian.

Salah satu kemungkinannya adalah jam sirkadian (jam biologis) yang salah.

Jam sirkadian sendiri merupakan "pengatur waktu" internal yang memberitahu tubuh bagaimana harus bertindak yang bergantung pada waktu hari. Inilah yang kemudian menghasilkan ritme sirkadian.

Dengan kata lain, ritme ini adalah semua proses biologis tubuh yang kita alami dalam sehari, misalnya makan atau tidur.

Penjaga ritme ini terdiri dari sel-sel di hipotalamus yang disebut dengan nukleus suprachiasmatik (SCN), yang mengendalikan keseluruhan proses tubuh.

Ilmuwan saraf Mary Harrington dari Smith College di Northampton, Massachusetts, AS menjelaskan bahwa ketika SCN berfungsi dengan baik, maka Anda akan merasa siap siaga di pagi hari. Selanjutnya, kesiapsiagaan ini akan merosot di sore hari hingga Anda merasa lelah pada malam hari.

Menurut Harrington, sebenarnya seberapa lama Anda tidur tidak mempengaruhi ritme ini. Tapi jumlah cahaya di lingkungan Anda yang mempengaruhinya.

"Serangan" cahaya yang konstan dari lampu buatan seperti dari ponsel, laptop, atau televisi dapat mencegah SCN bekerja dengan baik. Akibatnya, tubuh Anda mendapatkan sinyal yang salah.

"Saya pikir gangguan ritme sirkadian sangat umum terjadi di masyarakat kita dan semakin memburuk dengan meningkatnya penggunaan cahaya di malam hari," ungkap Harrington dilansir dari Newsweek, Sabtu (03/03/2018).

Ini karena cahaya dari lingkungan sekitar memberi tahu kepada SCN kapan waktu kita perlu terjaga atau mengantuk.

Saat gelap, SCN memberi tahu otak untuk melepaskan melatonin, hormon yang menyebabkan kantuk.

Jadi, coba bayangkan jika Anda menerima terlalu banyak cahaya di malam hari, maka ini akan membingungkan SCN. Begitu pula saat kita tidak mendapatkan tidak cukup cahaya di siang hari, hal ini berisiko untuk mengganggu jam sirkadian tubuh.

Terganggunya jam sirkadian akan membingungkan tubuh. Akibatnya, Anda merasa lelah sepanjang hari.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms