Peringatan Dokter Soal Jangan Berkendara saat Kantuk

Peringatan Dokter Soal Jangan Berkendara saat Kantuk

Survei yang dikutip Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto pada Kamis (1/3/2018) menyatakan bahwa merokok dan mendengarkan musik dapat menurunkan konsentrasi berkendara dan memicu terjadinya lalu lintas.

Kedua poin ini sempat ramai dibahas oleh masyarakat. Namun, nyatanya ada satu lagi penyebab kecelakaan lalu lintas, yakni mengantuk.

Minggu (25/6/2017), Polda Metro Jaya bahkan menyebut mengantuk sebagai penyebab utama kecelakaan saat mudik.

Menanggapi hal tersebut, Andreas Prasadja, dokter spesialis yang menangani masalah tidur menegaskan bahwa persoalan mengantuk tidak boleh disepelekan oleh pengendara.

Dia pun menyetujui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 yang melarang berkendara dalam keadaan mengantuk.

Sabtu (3/3/2018), Andreas menegaskan bahwa bahaya berkendara saat mengantuk sama besarnya dengan berkendara saat mabuk.

“Bahaya mengantuk itu bisa bikin kemampuan konsentrasi dan kewaspadaan saat berkendara menurun. Respons refleks menjadi buruk. Bisa berujung kecelakaan,” ujarnya.

Pengendara kendaraan juga akan kehilangan kemampuan untuk membaca jalanan, kehilangan konsentras, dan bisa tidak menyadari bahaya di depan, seperti kendaraan lain yang melintas.

Andreas menambahkan, kondisi mengantuk masih diremehkan oleh sebagian kalangan masyarakat. Saat mengantuk, masyarakat justru memilih memacu stamina lewat konsumsi kopi dan minuman berenergi. Seharusnya, masyarakat beristirahat terlebih dahulu saat mengantuk sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.

“Kopi, helm anti mengantuk, dan minuman berenergi kan tidak ada efek restoratifnya. Cuma alarm pengingat kalau “Hei, lu ngantuk”. Apalagi kafein itu stimulan menengah yang hanya bikin mata terbuka, tapi otak tetap lelah,” imbuhnya.

Dokter yang berpraktik di Klinik Gangguan Tidur Rumah Sakit Mitra Kemayoran ini juga meminta masyarakat untuk mewaspadai gangguan tidur yang bernama hipersomnia. Masyarakat kelompok golongan ini disarankan untuk tidak mengemudikan mobil atau motor sendiri sebelum penyakit tidur itu sembuh.

Penderita sleep apnea juga disarankan untuk menghentikan aktivitas mengendara sendiri.

Untuk diketahui hipersomnia merupakan kebalikan dari insomnia. Hipersomnia dialami oleh orang yang mudah ngantuk. Individu dengan kondisi tetap merasa kantuk berlebihan, kendati waktu tidurnya sudah cukup untuk ukuran normal.

Sementara itu, sleep apnea adalah gangguan yang menyebabkan orang mendengkur saat tidur. Selain mengorok, penderita sleep apnea akan tersedak saat tidur dan napas terhenti beberapa saat. Ini mengganggu kualitas tidur dan membuat penderita terus mengantuk pada keesokan harinya.

Andreas lebih menyarankan penderita sleep apnea untuk menumpang angkutan umum saat berpergian atau memakai jasa supir untuk mengantar mereka beraktivitas sehari-hari. Dengan demikian, potensi kecelakaan bisa ditekan.

“Di Inggris, pihak kepolisian mengeluarkan kebijakan untuk menahan surat izin mengemudi penderita sleep apnea. Kalau di Indonesia, belum ada,” ujarnya.

Untuk itu, dia meminta masyarakat untuk lebih peduli dengan tanda-tanda gangguan tidur seperti mudah mengantuk, tubuh tidak bugar kendati sudah banyak beristirahat, dan membutuhkan rokok atau suplemen peningkat energi supaya tidak mengantuk.

Andreas menyebut, penderita sleep apnea juga rentan terkena diabetes, hipertensi, impotensi, depresi, stroke, dan kematian.

Pemeriksaan lanjutan bisa dilakukan di klinik gangguan tidur yang ada di rumah sakit. Dokter akan melakukan pengecekan lewat polisonografi. Pasien juga diminta mencatat kebiasaan tidur sehari-hari.

Sesuai Aturan 8 Gelas Sehari atau Ikuti Perasaan Tubuh Anda

Sesuai Aturan 8 Gelas Sehari atau Ikuti Perasaan Tubuh Anda

Selama ini kita mendengar anjuran untuk minum air setidaknya delapan gelas sehari. Namun, ada kabar baru bahwa aturan itu tidak berlaku untuk semua orang.

Hal ini terungkap dari sebuah riset yang dilakukan peneliti di Monash University Australia. Dalam riset pada tahun 2016 itu, peneliti menyebut takaran cukup dan tidaknya konsumsi air seseorang adalah sesederhana mendengarkan tubuh kita sendiri.

Terdengar abstrak, tetapi peneliti punya argumen. Saat seseorang tidak butuh minum lagi, secara fisik dia akan kesulitan untuk menelan. Jadi, mengetahui cukup tidaknya konsumsi air dapat dilakukan dengan mendengarkan tenggorokan saja.

Mekanisme praktis ini sekaligus memperkuat fakta bahwa kebutuhan air setiap orang berbeda.

"Jika kita melakukan apa yang tubuh kita butuhkan, kita mungkin akan melakukannya dengan benar, minum sesuai kebutuhan dan bukan berdasar pada jadwal yang rumit," kata Michael Farrell, peneliti dari Monash.

Dalam penelitiannya, Farrell meminta 20 peserta untuk menilai usaha yang dibutuhkan untuk minum air dalam dua kondisi: setelah berolahraga saat mereka haus, dan kondisi saat mereka dibujuk untuk minum air berlebih.

Tim menemukan bahwa ada peningkatan tiga kali lipat usaha menelan setelah orang-orang minum terlalu banyak air. Hal ini menandakan bahwa tubuh mengatur seberapa banyak air yang dikonsumsi sehingga membuat tenggorokan lebih sulit untuk meminumnya.

"Di sini, untuk pertama kalinya kami menemukan usaha untuk menelan setelah minum air berlebih. Ini sesuai dengan anggapan bahwa refleks menelan menjadi terhambat setelah meminum cukup air," ujarnya.

Tim juga menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) untuk mengukur aktivitas di otak sesaat sebelum orang meminum air dan saat mereka terlalu banyak minum.

Dari situ, peneliti bisa memahami bagaimana tubuh mengendalikan asupan cairan dan berharap agar temuan ini dapat membantu orang membuat pilihan minum yang lebih baik.

Meski begitu, bukan berarti minum delapan gelas sehari buruk bagi seseorang. Sebab, beberapa orang mungkin memerlukan lebih dari itu dan beberapa orang lain memerlukan lebih sedikit.

Orang tua, misalnya. Mereka umumnya sering tidak cukup minum sehingga tetap harus memperhatikan asupan cairannya.

Sebaliknya, orang yang terlalu banyak minum bisa mengalami keracunan air atau hiponatremia. Kondisi itu menyebabkan tingkat natrium dalam aliran darah mnejadi sangat rendah dan dapat menyebabkan kelesuan, mual, kejang, koma, dan bahkan kematian.

"Ada kasus ketika atlet maraton diberitahu untuk minum air dan meninggal karena mengikuti rekomendasi ini dan minum jauh melebihi kebutuhan," kata Farrell.

Jadi, hal yang penting untuk membuat tubuh terhidrasi adalah dengan mendengarkan tubuh Anda.

Penelitian ini telah dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms