Pengertian dan Fungsi Akta Jual Beli Tanah

Pengertian dan Fungsi Akta Jual Beli Tanah

Akta jual beli tanah atau AJB adalah salah satu dokumen kepemilikan properti yang sangat penting. Sebagai bukti dasar dari proses peralihan hak atas properti atau tanah yang dijual oleh pemilik kepada pembelinya, AJB adalah salah satu akta otentik berupa dokumen.

Akta jual beli tanah sendiri dibuat oleh lembaga pejabat umum yang berwenang, yaitu Pejabat Pembuat Akta Tanah atau PPAT. PPAT ini harus diangkat dari lembaga kepala Badan Pertanahan Nasional atau BPN RI. Guna menerbitkan Akta Jual Beli setelah proses jual beli properti dilaksanakan, ada beberapa syarat dan tahap pembuatan yang perlu dilalui. Hal ini telah diatur dalam Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional, yaitu No. 08 tahun 2012 tentang Pendaftaran Tanah.

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum membuat Akta jual beli tanah yakni pajak penjual yang berupa Pajak Penghasilan atau PPh final, dan juga pajak pembeli yakni Bea Perolehan Hak atas Tanah dari Bangunan atau BPHTB. Besarnya nominal PPh final yakni 2,5% dari nominal perolehan hak, namun besarnya BPTHB yakni 5% dari nominal peroleh hak setelah dikurangi NPOPTKP.

Prosedur pengurusan Akta jual beli tanah harus dihadiri kedua belah pihak, baik penjual dan juga pembeli dengan menghadirkan minimal 2 orang sebagai saksi. Akta AJB sendiri nantinya ada 2 lembar yang akan diserahkan ke Kantor Pertanahan sebagai satu syarat Balik Nama, dan juga satu lagi disimpan oleh PPAT. Pihak penjual dan juga pembeli akan mendapatkan salinannya saja.

Kemudian setelah melakukan proses AJB, untuk lebih amannya yaitu lanjut ke proses Memiliki sertifikat hak milik. Dengan memiliki sertifikat tanah, tentunya akan banyak sekali keuntungannya. Sebab Investasi tanah adalah salah satu pilihan utama karena nilai jualnya yang selalu naik. Sebidang tanah saja bisa membuahkan banyak keuntungan walaupun tidak dipakai untuk apa-apa. Karena itulah mempunyai SHM banyak keuntungan. Apa saja keuntungan tersebut? Bacalah dengan seksama penjelasannya di bawah ini.

1. Sertifikat Hak Milik adalah kasta tertinggi
Pasal 20 UUPA menyatakan bila dilihat dari keleluasaan untuk kegunaannya, dari sekian hak  tanah yang ada, hak milik artinya SHM menempati kasta tertinggi dan juga mempunyai manfaat paling besar untuk pemiliknya.

Pasal tadi menyatakan bahwa hak milik atas tanah merupakan hak terkuat, turun-temurun dan terpenuh yang bisa dimiliki orang atas tanah. Hak milik atas tanah ini bisa memberikan wewenang untuk pemilik supaya menggunakannya dalam segala macam keperluan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

Hak milik atas tanah ini berlangsung terus selama pemiliknya itu hidup dan juga ketika sudah meninggal dunia, hak miliknya ini bisa diturunkan ke ahli waris selama semuannya memenuhi syarat sebagai subjek hak milik, dan juga tidak bertentangan dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

2. Lebih bergengsi tinggi
Bila ibandingkan dengan tanah yang status HGU, mempunyai tanah dengan status SHM lebih bergengsi tinggi ketimbang dengan HGU, kalian cuma memiliki hak untuk mengusahakan tanah yang kekuasaannya itu langsung oleh negara dalam jangka masa tertentu yaitu paling lama 60 tahun dalam keperluan pertanian, perikanan, perkebunan, ataupun peternakan.

3. Lebih bisa leluasa
Punya tanah dengan sertifikat hak guna bangunan, kalian berhak mendirikan serta membuat bangunan atas tanah yang bukan milik kalian sendiri, dengan jangka masa paling lama 30 tahun. Dengan memiliki sertifikat hak milik, kalian lebih leluasa membangun bangunan yang kalian  inginkan di atas tanah tersebut.

4. Asset ini memberikan keuntungan banyak
Mempunyai tanah dengan status hak milik itu artinya kalian memiliki asset meskipun tidak mendirikan bangunan ataupun usaha di atas tanah tersebut, tanah itu dapat memberi keuntungan dari penjualan. Selain itu juga kalian bisa menggadai dalam jangka waktu sementara tanah tersebut bila ingin meminjam dana ke bank, diwakafkan, disewakan, dan diwariskan ke anak-cucu dikemudian hari.

5. Bagaimana Dengan Tanah Warisan?
Meskipun jarang namun ada tanah yang statusnya itu merupakan warisan dan juga belum memiliki sertifikat. Kejadian ini bisa saja terjadi, contohnya apabila pengelola tanah tersebut mengalami kejadian meninggal dunia sebelum sempat mengkonversi girik menjadi sebuah sertifikat.

Apabila kebetulan tanah yang ingin dibeli adalah sebuah warisan serta belum bersertifikat, jangan kalian patah semangat. Kalian hanya perlu sedikit usaha. Prosedur jual belinya ini mirip dengan tanah girik biasa, akan tetapi dengan satu tambahan. Berikut ini beberapa ketentuannya yang dirangkum dari Liputan6.com property:
  • Kalian harus mengurus berkas tambahan yakni Surat Keterangan Waris. Surat ini berguna sekali untuk membuktikan hak atas pengelolaan tanah girik tersebut telah diwariskan.
  • Jika pengelola tanah ini WNI, maka Surat Keterangan Waris dapat dibuat di kelurahan. Isi dari surat itu menerangkan bahwa hak atas tanah telah diwariskan ke keluarga.
  • Kemudian, jika keluarga yang diberi warisan bersama 2 orang saksi dan juga lurah membubuhkan tandatangan. Surat itu kemudian dibawa ke kantor camat untuk ditandatangani lagi.
Itulah tadi beberapa penjelasan tentang pengertian dan Fungsi Akta Jual Beli Tanah, untuk informasi lebih lanjut dan mendetail kalian bisa mengunjungi ke laman Rumah.com.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms